Awwww !
Teriak kinanti dengan ekspresi sangat histeris. Pagi itu dia terlihat sangat
kebingungan dan kaget melihat kelincinya tidak ada di kandangnya. Dia berlari
kesana kemari untuk mencari kelincinya, sampai ia tidak menyadari bahwa waktu
telah menunjuk pada pukul setengah tujuh pagi.
“Kinan, kamu mencari apa?”
kata ibu Kinanti.
“Itu bu, saya sedang
mencari kelinci” jawab Kinanti.
“Haduh nduk, kamu ngak
lihat apa ini sudah jam berapa? Kamu mau telat masuk sekolah?”
“Iya bu, Kinan tahu, tapi
bagaimana dengan kelincinya bu?” seru kinan dengan nada memelas.
“Udah nanti ibu coba cari,
insyaallah kelincinya bisa ketemu” jawab sang ibu menenangkan Kinan.
“Baik bu, terimakasih ya
bu, maaf kinan malah jadi ngrepotin ibu” balas kinan.
“Walah, tidak apa apa nak,
kelinci itu kan juga sudah milik keluarga, jadi sudah menjadi tanggung jawab
kita semua untuk menjaga dan merawatnya” jawab ibu.
“Iya bu, ya sudah, Kinan
berangkat ke sekolah dulu ya bu, segera kabari Kinan ya bu kalau kelincinya
sudah diketemukan !” seru Kinan.
“Oke, hati – hati ya nak”
perintah Ibu.
Dengan terburu – buru Kinan segera berangkat ke sekolah,
untung saja sekolah Kinan tidak begitu jauh dari rumahnya, jadi Kinan tidak
terlambat sampai di sekolah.
“Fiuh, akhirnya sampai juga di sekolah, untung aja ngak
telat” seru kinan sambil mengelap keringat yang tercucur di dahinya karena ia
berlari.
Pada saat pelajaran, Kinan hanya melamun dan termenung,
sampai sampai ia tidak menyadari bahwa guru Bahasa Indonesia telah meminta
Kinan untuk membaca suatu cerita. Oleh karena Kinan tidak memperhatikan lalu ia
dihukum. “Sungguh hari yang sangat sial” kata Kinan dalam hati.
Sepulang sekolah, ia segera berjalan menuju ke rumahnya,
pada saat perjalanan, Kinan merasa takut kalau kalau kelincinya tidak akan
ditemukan. Pada saat ia sudah sampai di rumah, ia sangat sedih dan kecewa
melihat kenyataan bahwa kelincinya belum diketemukan, padahal ia dititipi pesan
oleh kakaknya yang sedang kuliah di luar kota untuk menjaga dan merawat kelinci
tersebut dengan baik karena kelinci tersebut adalah kelinci kesayangan kakaknya
sebagai kado ulang tahun dari pacarnya.
Saat itu juga Kinan pergi berkeliling untuk mencari sang
kelinci dengan bulu abu – abu yang sangat halus itu. Karena ia sangat lelah, ia
duduk di sebuah taman dan termenung serta melamun.
“Door ! seru seseorang.
Kinan langsung terbangun
dari lamunannya itu. Ia merasa sangat kaget dan terkejut karena orang tersebut
tidak ia kenali. Lalu Kinan bertanya “Siapa ya kamu?”
“Ahh, kamu, masak sih lupa
sama aku? Jawab orang tersebut.
“Gak penting ah !” jawab
Kinan lalu Kinan pergi.
“Tunggu
!” seru sang cowok sambil memegang tangan Kinan.
“Ih,
apaan sih? Pegang – pegang” jawab Kinan.
“Ingatkah
dirimu bahwa aku adalah teman masa kecilmu? Seru sang cowok dengan suara lirih.
“Apa? Kamu Jason? Teman TK ku dulu? Tanya Kinan dengan
ekspresi yang sangat kaget.
“Iya, ini
aku Jason, teman masa kecilmu” jawab Jason.
“Oalah
kamu, eh gila, sekarang kamu udah beda banget, dulu itu kamu culun banget,
sekarang udah cool je” kata Kinan pada Jason sambil tertawa terbahak bahak.
Setelah mengetahui bahwa orang
tersebut adalah Jason, Kinan berbincang –
bincang cukup lama dengannya,
Kinan juga menceritakan tentang kelincinya yang hilang. Lalu Jason berjanji ia
akan menemani Kinan mencari kelincinya yang hilang esok hari.
Dengan bercerita pada Jason dan mendengar janji tersebut, Kinan merasa lebih
tenang.
Keesokan hari telah tiba. Sepulang sekolah Kinan bersemangat sekali karena ia
akan pergi dengan Jason untuk mencari kelincinya yang hilang. Dan akhirnya
mereka berdua bertemu dan bersama – sama berkeliling mencari kelinci Kinan
yang hilang.
Pada suatu jalan, tepatnya di sudut sisi jalan tersebut terlihat seekor binatang
yang mirip dengan kelici, Kinan segera berlari dan menemui binatang tersebut,
setelah ia lihat ternyata binatang
tersebut bukan kelincinya yang hilang. Kinan merasa sangat
kehilangan harapan pada saat itu, ia merasa bersalah karena tidak dapat
menjalankan tugas dari kakaknya dan tidak dapat menjaga kelincinya dengan baik.
Karena hari sudah petang, Kinan dan Jason kembali ke rumah masing – masing.
Malam
itu, Kinan bermimpi bahwa kelincinya ditemukan, di mimpi itu Kinan sangat
senang, tetapi saat Kinan terbangun dari tidurnya, ia sangat kecewa dan sedih
karena ternyata itu hanyalah mimpi. Walaupun begitu, Kinan percaya bahwa cepat
atau lambat ia akan menemukan kelincinya yang hilang itu.
Hampir
setiap hari, Kinan berangkat ke sekolah dengan ekspresi sedih, tanpa henti ia
selalu memikirkan kelincinya yang hilang, ia pun belum bilang pada kakaknya
bahwa kelincinya telah hilang. Ia tidak bisa membayangkan jika kakaknya tau
tentang hal ini, maka dari itu Kinan berniat menyembunyikan hal ini. Adik Kinan
yang bernama Anggi juga turut sedih dan ia juga turut mencari kelinci tersebut
namun hasilnya masih nihil.
Tanpa
disangka, saat Kinan sedang duduk di halaman rumah, tiba – tiba ada suara, suara
itu tidak asing lagi bagi Kinan dan Kinan sangat terkejut melihat bahwa
kelincinya yang hilang telah kembali. Ia tak pernah menyangka bahwa kelincinya
akan kembali dengan sendirinya, dan hari itu Kinan dan keluarganya merasa sangat
senang dan pada saat itu pula Jason datang ke rumah Kinan, dan akhirnya mereka
bermain bersama dengan kelinci tersebut.
Pagi
harinya Kinan sangat bersemangat sekali pada saat mau berangkat ke sekolah,
berbeda dengan hari biasanya, namun siapa sangka saat pulang sekolah dan
berniat ingin memberi makan kelinci, didapatinya kelincinya sedang merasa
kesakitan karena kakinya terjepit oleh kandangnya sendiri.
Semuanya
terlambat, benar – benar disayangkan, Kinan terlambat mengetahui hal tersebut.
Walaupun Kinan sempat untuk melepaskan kaki kelinci namun semuanya sia – sia,
kelinci berbulu abu – abu itu akhirnya tetap mati. Kinan sangat sedih begitu
pula dengan adiknya dan keluargnya, kakaknya yang mengetahui bahwa kelincinya
sudah mati, langsung ia bela - belain pulang dari Yogya untuk melihat
kelincinya yang mati.
Hari itu
sungguh menjadi hari yang sangat menyedihkan dan mengecewakan bagi tiga
bersaudara tersebut. Pada saat itu pula Jason juga merasakan sedih yang
dirasakan oleh mereka. Tetapi apa daya mereka jika itu memang sudah menjadi
kenyataan dan takdir.
Sebenarnya
Kinan dan kedua saudaranya merasa sedikit kecewa sebab kematian kelinci
dikarenakan oleh ayahnya yang salah membuat kandang, jadi pada bagian bawah
kandang terdapat bambu yang bersela kecil dan hal itu yang membuat kaki kelinci
terjepit.
Namun
begitu, mereka semua tidak menyalahkan ayahnya. Dari hal tersebut mereka semua
dapat belajar bagaimana seharusnya membuat kandang dengan baik dan mereka sadar
bahwa mereka harus menjaga dan merawat binatang dengan lebih baik lagi.
No comments :
Post a Comment